BAB
1
Unsur Kebudayaan
Universal
Wilayah Padangsidimpuan
1.
Pengertian kebudayaan
Kebudayaan adalah hasil karya
manusia dalam usahanya mempertahankan hidup, mengembangkan keturunan dan
meningkatkan taraf dengan segala keterbatasan kelengkapan jasmaniahnya
serta sumber-sumber alam yang ada disekitarnya. Kebudayaan
boleh dikatakan sebagai perwujudan tanggapan manusia terhadap
tantangan-tantangan yang dihadapi dalam proses penyesuaian diri mereka dengan
lingkungan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk
sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan
pengalamannya, serta menjadi kerangka landasan bagi mewujudkan dan mendorong
terwujudnya kelakuan
a.
Kebudayaan Padang
Lawas
Kota Padangsidimpua adalah salah
satu Kota di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia, yang dimekarkan dari
Kabupaten Tapanuli Selatan. Kabupaten Padangsidimpuan merupakan Kabupaten
pemekaran Baru dari Kabupaten Tapanuli Selatan pada tahun 2007. Dasar hukum
pendirian Kabupaten Padang Lawas Utara adalah Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 37 Tahun 2007 dan disyahkan pada tanggal 10 Agustus 2007 tentang
pembentukan Kabupaten Padang Lawas Utara dan Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 38 Tahun 2007 dan disyahkan pada tanggal 10 Agustus 2007 tentang
pembentukan Kabupaten Padang Lawas maka. Saat ini adalah pemerintahan pertaman
oleh bupati Bachrum Harahap.
a.
Pakaian Adat
Kabupaten yang mempunyai luas
wilayah 3.892,74 km bujur sangkar ini mempunyai pakaian adat yang sama.
Adapun pakaian yang dipakaikan
sebagai penutup kepala laki-laki disebut dengan istilah Happu, dan
aksesoris sebagai penutup kepala perempuan disebut dengan istilah Bulang.
peraturan dalam tarian tortor yang ada di padang lawas khususnya daerah barumun
tengah dan sekitarnya, antara lain tidak diperbolehkan memakai alas kaki
seperti sepatu kecuali bagi kedua mempelai (bayo pangoli/pengantin putra
dan boru nadioli/ pengantin Putri: istilah adat)
b.
Tari Tradisional
Nama tarian tradisionalnya adalah
tari tor-tor, biasanya prosesi tarian ini terdiri dari panortor dan pangayapi
(panortor berada di posisi depan pangayapi)
![]() |
c.
Partuturon
Partuturon Tutur sapa dalam
memanggil seseorang dengan ungkapan sesuai posisinya dan disematkan sebelum
nama yang mau dipanggil adalah sesuatu yang sangat urgen diketahui dikabupaten
padang lawas. karena menurut budaya dan tradisi yang sudah berkar turun temurun
ini tanpa diketahuinya partuturon bisa merusak dan melangggar peraturan yang
berlaku dalam adat setempat, secara umum partuturon didaerah ini dibagi menjadi
tiga:
- Mora. yaitu bagian kelompok keluarga ibu dan istri. (Tulang, Tunggane, Tulang naposo)
- Anak boru. bagian kelompok suami saudara perempuan, suami saudara perempuan ayah, dan suami anak perempuan. (Amang boru, Lae, Bere)
- Kahanggi. yaitu bagian kelompok saudara laki-laki ayah (Uda/Paman) sampai keatas (uwak/ amang tua.oppung suhut, anak da pahoppu ).saudara laki-laki, dan anak saudara laki-laki sampai kebawah.
Tiga macam partuturon inilah sebagai
induk dari partuturon di padang lawas, begitu kata salah seorang yang mengerti
tentang partuturon yang juga sama asalnya dengan penulis yaitu dari Kabupaten
Padang lawas. Dan tiga partuturon ini lah yang disebut dalam satu istilah Dalihan
Natolu (Mora, Anak Boru, Kahanggi). dari sebutan panggil atau
partuturon yang tiga mcam ini lalu berkembang menjadi ada mora ni mora dan
atau pisang raut.
2. Tahun Unsur
Kebudayaan
Kabupaten padang lawas berdiri sejak
diputuskannya Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 38, Tahun 2007,
bertepatan dengan tanggal 10 Agustus 2007. Ibukota kabupaten yang
mempunyai jumlah penduduk 233.933 jiwa dan punya luas wilayah 3.892,74 km
bujur sangkar ini adalah Sibuhuan, .
dan kepala Daerah (Bupati)
pertama Kabupaten Padang Lawas adalah Basrah Lubis, S.H.
a.
Bahasa
Bahasa adalah
alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk
saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan,
ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau
kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat
menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat,
dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.Bahasa
memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi
khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk
berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk
mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi
bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan
sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah
kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bahasa
yang di gunakan di wilayah padang lawas ialah batak mandailing dan ada juga
bahasa batak toba dan yang paling banyak peduduknya di wilayah padang lawas ini
adalah suku batak mandailing.
b.
Sistem pengetahuan
Secara
sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang
benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki oleh
semua suku batak mandailing di padang lawas. Mereka memperoleh pengetahuan
melalui pengalaman, intuisi, dan berpikir menurut logika, atau
percobaan-percobaan yang bersifat empiris (trial and error).
Sistem pengetahuan tersebut
dikelompokkan menjadi:
- pengetahuan tentang alam
- pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan di sekitarnya
- pengetahuan tentang tubuh manusia, pengetahuan tentang sifat dan tingkah laku sesama manusia
- pengetahuan tentang ruang dan waktu
c.
Sistem mata pencaharian
System mata pencarian di padang
lawas adalah bertani seperti menanam padi, dan
minyak sawit. Dan di padang lawas
ini ada juga pekerjaan nya di PT,
contoh seperti:
1.
PT. dan
Perkebunan Masyarakat
PT. Raja Garuda Mas Group dan
dua PT. Yang berada dibawah benderanya yaitu PT. Sumatera Riang Lestari (SRL)
dan PT. Sumatera Silva Lestari yang sempat mengalami konflik dengan msyarakat
setempat akibat penyerobotan lahan masyarakat, meskipun sebenarnya ceritanya
masih simpang siur, menhut mengtakan bahwa lahan itu adalah milik negara bukan
milik pribadi maupun perusahaan, meskipun lahan tersebut difungsikan hanya
boleh digarap oleh masyarakat setempat, dan itupun bukan sebagai hak milik
melainkan hak pakai.
selain itu Sumber Daya Alam Kabupaten Padang lawas yaitu Pabrik-Pabrik dan sejumlah Perkebunan masyarakat yang ditanami sawit yang sudah menghasilkan dan juga tanaman pohon rambung yang sudah memberikan hasil yang lumayan memuaskan.
Dan pada sistem
mata pencaharian ini ada juga beberapa mata pencaharian tradisional, di
antaranya:
- Beternak
- Bercocok tanam di lading
d.
System peraturan hidup dan teknologi
Teknologi menyangkut cara-cara
atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan
perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan
masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam
memproduksi hasil-hasil kesenian.
Masyarakat kecil yang
berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup
dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi
tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu:
- alat-alat produktif
- alat-alat menyalakan api
- makanan
- pakaian
- tempat berlindung dan perumahan
- alat-alat transportasi
e.
Religi
Mengamalkan ritual keagamaan
termasuk dari ciri khas dari masyarakat di kabupaten padang lawas, sehingga
dengan kepanatikan terhadap ajaran agama, sebagian masyarakat banyak yang
menarik-narik budaya kedalam agama, budaya yang saya maksudkan disini adalah
tradisi-tradisi yang dilakukan nenek moyang pada tempo dulu yang belum jelas
diketahui sumber pengambilan hukumnya lansung dilaksanakan oleh masyarakat dan
dianggap sebagai ritual yang termasuk dalam ajaran agama, seperti kegiatan marpangir
yaitu melaksanakan mandi dan membersihkan badan dengan air yang di beri
wewangian sebelum bulan puasa, sepanjang niat yang seperti itu masih bisa
diterima kalau masyarakatnya mengatakan hal demikian termasuk bagian dari
ajaran agama, bahayanya sebagian kecil ada yang sampai menganggap hal itu
sebagai syarat mengikuti ibadah puasa pada bulan ramadhan sampai-sampai ada
yang yang mengatakan tanpa marpangir puasa tidak sempurna. Akan tetapi
belakangan ini masyarakatnya semakin berkembang dan semakin cerdas, dikarenakan
semakin banyaknya putra-putri asal padang lawas yang menggali pengetahuan dan
menempah sikap kritis terhadap sesuatu yang masih dianggap belum seseai.
dan sebenarnya masih banyak lagi adat istiadat yang sering dikitkan dan atau ditarik-tarik dalam ajaran agama dipadang lawas, dan memang sebahagian besarnya mengarahkan masyarakat menuju ajaran agama yang sesungguhnya.
dan sebenarnya masih banyak lagi adat istiadat yang sering dikitkan dan atau ditarik-tarik dalam ajaran agama dipadang lawas, dan memang sebahagian besarnya mengarahkan masyarakat menuju ajaran agama yang sesungguhnya.
Hampir 99.99% dari 233.933
jiwa (data 2007 diawal berdirinya kabupaten padang lawas) menganut agama islam.
f.
Kesenian
Nama
tarian tradisional di padang lawas adalah tari tor-tor mandailing, biasanya
prosesi tarian ini terdiri dari panortor dan pangayapi (panortor
berada di posisi depan pangayapi).
Dan tarian ini sering digunakan di
saat ada acara pernikahan, dan acara pesta batak juga.
g.
Organisasi sosial dan system kekerabatan
a.
organisasi
sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang
berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai
sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara.
Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia
membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu
yang tidak dapat mereka capai sendiri.
b.
Sistem
kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur
sosial. Meyer Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan
suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur
sosial dari masyarakat yang bersangkutan.
c.
Kekerabatan
adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang
memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas
ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan
seterusnya.
d.
Dalam
kajian sosiologi-antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari
yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga
ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di masyarakat
umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga
inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilater
Daftar Pustaka


No comments:
Post a Comment